VISI DAN MISI ORGANISASI

Setiap organisasi tentu memiliki visi dan misi. Visi dan misi ini merupakan jantung dan urat nadi sebuah organisasi. Dikatakan demikian, karena visi dan misi dalam sebuah organisasi merupakan kebutuhan yang sangat vital. Visi dan misi juga merupakan motor penggerak roda organisasi. Lalu apakah yang dimaksud dengan visi dan misi organisasi itu? Simak paparannya di bawah ini.
1.      Pengertian Visi
Yakob Tomatala ketika membahas tentang visi dan dikaitkan dengan kekepemimpinan dalam buku Anda Juga Bisa Menjadi Pemimpin Visioner menulis, “Visi kepemimpinan adalah kemampuan pemimpin untuk melihat serta memahami keinginan suci yang ditulis oleh Allah di dalam batinnya bagi organisasi serta kepemimpinannya”.[1] Di sini dapat ditemukan bahwa dalam visi itu ada kehendak Allah yang khusus bagi kepemimpinan seorang pemimpin. Berdasarkan pengertian visi kepemimpinan semacam itu, maka terlihat adanya harmonisasi antara Allah sebagai sumber dan pemberi visi dengan pemimpin yang menerima visi serta lingkungan dalam hal ini organisasi sebagai wadah untuk mengimplementasikan visi kepemimpinan. Hubungan harmonis tersebut memungkinkan pemimpin dapat menemukan keinginan suci yang dikaruniakan oleh Allah dalam jiwanya untuk memimpin organisasi mencapai tujuan, baik tujuan utopi maupun tujuan operasional organisasi.
Kemunculan suatu visi kepemimpinan pada prinsipnya terjadi karena adanya kesenjangan antara kebutuhan yang terasa dengan apa yang terjadi. Andy Stanley yang dikutip oleh Yakob Tomatala menulis, ”Visi-visi lahir dalam jiwa seorang pria atau perempuan yang dihadapkan kepada ketegangan tentang apa sebenarnya yang ada dan apa yang dapat terjadi”.[2]
Untuk menemukan kebutuhan seperti yang diungkapkan di atas, dibutuhkan kepekaan dan kepedulian seseorang pemimpin. Sebuah visi yang ditetapkan Allah akan berawal dari sebuah kepedulian. Sikap empatik atau kepedulian suci yang dikaruniakan Allah bagi seorang pemimpin akan menjadi dinamika yang memotivasi untuk bertindak mewujudkannya dalam aksi yang nyata dalam organisasi dan dalam penyelenggaraan kepemimpinannya.
Salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas kinerja kepemimpinan ialah karena visi kepemimpinan yang tidak jelas perumusannya. Dampaknya akan terasa dalam aktivitas organisasi dan penyelenggaraan kepemimpinan yang pasif. Visi yang hanya dalam ”angan-angan” pemimpin dan tidak tertulis serta tidak dikomunikasikan secara efektif kepada bawahan atau pengikut, akan melemahkan daya juang dan menghancurkan organisasi. Jadi visi memiliki peranan penting dan sentral dalam suatu organisasi/institusi yang bergerak di bidang apapun. Lebih dari itu, visi juga menjadi kunci penentu meningkatnya performance atau kinerja kepemimpinan seorang pemimpin.

2.      Pengertian Misi
Setiap organisasi/institusi/gereja untuk mewujudkan visinya, maka diperlukan misi. Misi di sini dipahami sebagai suatu tindakan terencana, jelas dan terarah.  Dalam upaya membahas tentang misi, Yakob Tomatala dalam buku Anda Juga Bisa Menjadi Pemimpin Visioner, menulis, ”Misi adalah pengembangan serta peneguhan visi (keinginan suci) yang dinyatakan dalam suatu rumusan yang merangkum, tersistem, memikat, mendorong dan menggerakkan secara terfokus ke suatu tujuan, yang melibatkan pengerjaan seperangkat tugas memasuki suatu masa depan yang pasti”.[3] Jadi misi merupakan kegiatan atau aktivitas kepemimpinan yang didasarkan dan menerapkan fungsi-fungsi manajemen secara akurat, sehingga memastikan suatu institusi atau organisasi dapat memasuki masa depan dengan gemilang. ”Misi dalam kepemimpinan lebih berarti ”tugas khusus”, atau ”penugasan khusus” atau pernyataan tentang tugas khusus dimaksud yang erat hubungannya dengan suatu tujuan”.[4]
Lebih lanjut Yakob Tomatala menghubungkan misi dengan kepemimpinan menulis:
Misi kepemimpinan berhubungan erat dengan tujuan, yang berkaitan dengan apa yang akan dicapai, karena misi merupakan pengembangan dari visi dan menjelaskan tentang untuk apa suatu organisasi itu ada. Misi kepemimpinan memberikan kepastian tentang apa yang akan dikerjakan atau dapat dikatakan bahwa misi berhubungan dengan pekerjaan, sehingga ”kebutuhan keseharian” yang terasa tidak menjadi ancaman, karena akan selalu terpenuhi. Misi kepemimpinan meneguhkan sikap tentang apa yang akan dikerjakan untuk dicapai menjawab kebutuhan hari esok. Misi dalam kaitan ini bersifat futuristik yang memiliki tujuan dan tugas atau pekerjaan yang akan dikerjakan, sehingga memastikan hasil yang lebih produktif.[5]

Merujuk kepada apa yang diutarakan tentang misi dalam hubungannya dengan   kepemimpinan   seperti   di   atas, maka   dapat   dikatakan   bahwa   misi kepemimpinan berkaitan erat dengan seluruh mekanisme organisasi yang dibangun atas sebuah tujuan yang pasti dan jelas yang hendak dicapai. Untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan perlu dilakukan suatu perencanaan strategis guna memastikan dan memperjelas serta mempertegas tugas atau pekerjaan yang akan dilakukan. Dengan metode semacam ini akan menjamin suatu organisasi dapat mencapai tingkat efektivitas, efisiensi dan produktivitas tinggi yang pada gilirannya tujuan yang dicanangkan tercapai secara maksimal. Oleh karena itu gereja sebagai suatu organisasi perlu memiliki dan dibangun atas visi serta misi yang jelas sebagai landasan untuk mencapai kualitas kinerja atau prestasi kerja yang maksimal.




[1] Yakob Tomatala, Anda juga bisa Menjadi Pemimpin Visioner, Jakarta: YT Leadership Foundation, 2005, hlm. 24. 
[2] Ibid., hlm. 25.
[3] Ibid., hlm. 84
[4] Ibid., hlm. 83.
[5] Ibid., hlm. 82.




READ MORE - VISI DAN MISI ORGANISASI

TEORI KEPEMIMPINAN PENUNJANG KINERJA BERKUALITAS

Meningkatnya kualitas kinerja kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan yang digunakan dan dikembangkan oleh seseorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinan di sebuah organisasi/institusi/gereja yang dipimpin. Di bawah ini disajikan beberapa teori kepemimpinan yang sekiranya dapat menunjang kinerja kepemimpinan seseorang pemimpin. Teori-teroi kepemimpinan tersebut antara lain:

a.      Teori Kepemimpinan Hamba - Pelayan
Kepemimpinan hamba - pelayan didasarkan dan berpusat pada ajaran Kristus. Dikatakan  demikian, karena Kristus adalah inti dan fokus serta pusat dari penyelenggaraan kepemimpinan Kristen. Kristus telah melakukannya dengan sempurna dalam sepanjang kepemimpinan-Nya di bumi ini. Hal ini ditandai dengan Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (Yohanes 13:1-17). “Ketika Yesus membasuh kaki para murid, Ia gamblang menunjukkan prinsip bahwa pelayanan dengan rendah hati sekali-kali tidak bertentangan dengan harkat dan martabat suatu jabatan”.[1]
Yakob Tomatala menulis, ”Pemimpin Kristen harus memahami bahwa ia terpanggil sebagai pelayan hamba. Seorang pemimpin Kristen terpanggil oleh Allah kepada tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pelayan dengan status sebagai hamba Allah. Pemimpin Kristen bukan terpanggil kepada suatu posisi atau jabatan tertentu, tetapi terpanggil karena tugas dan tanggung jawab sebagai pelayan hamba”.[2] Dengan pemahaman dasar seperti ini, maka seorang pemimpin Kristen akan mampu untuk meningkatkan kualitas kinerja kepemimpinannya. Norman Shawchuck menulis, ”Secara sederhana, Yesus menyatakan bahwa pemimpin yang efektif haruslah mau menjadi hamba dulu. Jauh di dasar hatinya, seorang pemimpin harus ingin melayani agar dapat memimpin. Kepemimpinan adalah untuk umat dan bukan sebaliknya. Pemimpin harus menjadi pemimpin hamba yang melayani umat dengan dan melalui kepemimpinannya”.[3] Kepemimpinan pelayan - hamba menjelaskan tentang pemimpin yang bekerja dengan sikap kerendahan hati. Orientasi pengabdiannya adalah kepada Allah dan sesama atau orang lain yang dipimpin dengan hasil akhir yang optimal.

b.      Teori Kepemimpinan Kasih Karunia
Kepemimpinan kasih karunia adalah kepemimpinan yang menempatkan Allah sebagai prioritas utama dalam seluruh mekanisme organisasi. Kepemimpinan kasih karunia merupakan kepemimpinan yang berpusat pada dan dari Allah serta saling ketergantungan yang bertanggung gugat dan bertanggung jawab antara Allah, pemimpin dan bawahan/pengikut. Berkaitan dengan hal tersebut, John C. Bowling menulis:
Jika seseorang ingin menjadi seorang pemimpin penuh kasih karunia, dia harus menempatkan Allah dipusat kehidupan, pekerjaan dan pergaulannya. Kasih karunia Allah yang bekerja dalam kehidupannya akan menjadikan kepemimpinannya berbeda dengan kepemimpinan orang lain, bukan dalam gaya, melainkan perbedaan dalam jiwa…. Pemimpin penuh kasih karunia sadar dan menerima kenyataan bahwa mereka adalah pelayan-pelayan kepercayaan bahwa mereka saling tergantung dan saling bertanggung jawab satu sama lain. Pemimpin seperti itu akan menyadari bahwa kewajiban seseorang jauh lebih penting dari pada haknya.[4]

Pada sisi lain, kepemimpinan kasih karunia adalah anugerah Allah yang khusus, yang mana Ia sendiri memilih pemimpin untuk memimpin gereja-Nya. Tentang hal ini, Yakob Tomatala memberikan penegasan, ”Bahwa kepemimpinan Kristen presuposisi yang berkenaan dengan anugerah khusus yang menekankan bahwa Allah dalam kedaulatan-Nya memilih pemimpin Kristen bagi diri-Nya (faktor penentu) yaitu pemimpin yang berkapasitas (memiliki karunia memimpin, pengetahuan, keahlian serta karakter yang mapan) yang diterapkannya bagi tugas (bukan jabatan/posisi) pelayan sebagai pemimpin dalam semua kategori”.[5]
Dengan demikian, kepemimpinan kasih karunia akan berhasil memimpin organisasi dengan kualitas kinerja tinggi. Dikatakan demikian, karena Allah menopang kepemimpinan semacam ini dengan kompetensi, kapasitas dan kapabilitas guna memimpin dengan efektif, efisien dan berhasil. Berdasarkan hal itu, maka ada jaminan yang pasti dari Allah bagi pemimpin untuk memimpin organisasi/institusi/gereja mencapai tujuan yang telah dicanangkan bersama. Tujuan dimaksud pada gilirannya berdampak positif dan membawa kemuliaan bagi Allah.

c.       Teori Kepemimpinan Proaktif
Kepemimpinan proaktif tidak hanya berlangsung dan bersifat dua arah, tetapi juga berwujud pelaksanaan hubungan manusiawi yang efektif, antara pemimpin dengan dan sesama orang yang dipimpin. Dalam menjalankan peran ini, pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam keikutsertaannnya mengambil keputusan maupun dalam melaksanakannya. Pada sisi lain, kepemimpinan proaktif memiliki pemikiran positif yang bersedia untuk berpartisipasi ketika orang-orang yang dipimpin melaksanakan keputusan organisasi. ”Seorang pemimpin efektif adalah pemimpin yang dibentuk, terbentuk serta membentuk diri menjadi manusia efektif. Tekanan utama untuk menjadi pemimpin efektif adalah pada kualitas diri yang tinggi (secara rohani, moral pengetahuan, serta keahlian)…. Pemimpin efektif harus belajar dan secara serius serta terus menerus mengembangkan sikap yang proaktif”.[6] Menurut Yakob Tomatala, kepemimpinan proaktif ditandai oleh:
Pemimpin harus selalu berinisiatif untuk aktif yang dinyatakan dalam sikap yang secara sadar berupaya untuk aktif yang positif. Sikap seperti ini disebut proaktif. Sikap proaktif ini ditandai oleh adanya visi pribadi yang kemudian berkembang menjadi visi penuntun yang dikembangkan dalam hidup dan kerja dari seorang individu pemimpin.
Pemimpin harus tetap mengembangkan rasa kesadaran diri yang tinggi melalui pengembangan imajinasi secara positif. Pengembangan dan penerapan imajinasi positif ini harus dilakukan terhadap bawahan, dan semua faktor lain yang dihadapi dalam lingkungan kepemimpinan.
Pemimpin perlu berupaya untuk mengembangkan dan menggunakan kehendak bebasnya dalam upaya berpikir yang tertata dan terarah serta bertindak secara terencana guna menjadi lebih maju.
Pemimpin harus selalu mengembangkan kepekaan suara hatinya untuk memahami orang/situasi dan merefleksikan dirinya secara wajar.
Pemimpin perlu menetapkan kecenderungan atau orientasi utama dari dirinya terhadap orang lain, dengan siap senantiasa untuk membawa pengaruh positif dan membangun.
Pemimpin harus memiliki komitmen diri yang konsisiten untuk menjadi proaktif. Hal ini dimulai dari sikap batin yang kemudian diekspresikan secara ajeg dalam perilaku yang baik. Ekspresi komitmen ini bersifat inspiratif dan membangun serta membawa kebaikan lebih dirinya, para bawahannya, pekerjaannya serta lingkungan di mana ia berada.[7]

”Disini pemimpin harus belajar dan terbiasa untuk berpikir strategis”.[8]

Ferdinan Simanjorang memberikan ciri-ciri pemimpin yang proaktif yaitu:
Mereka tidak hanya berorientasi supaya pengikut aktif, melainkan mereka mengaktifkan para pengikutnya untuk melakukan aktivitas yang prioritas terlebih dahulu, kemudian yang kurang prioritas. Bila ia sudah matang sebagai pemimpin yang proaktif, ia hanya berfokus dan tidak mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang prioritas, sampai hal itu selesai, kemudian beralih kepada hal yang belum atau kurang prioritas, yang akan mendelegasikannya kepada staf  kepemimpinannya untuk menanganinya sesuai dengan kewenangan yang diberikannya. Mengembangkan terus pola pikiran kreatif, inovatif, dan progresif untuk menemukan ide-ide cemerlang sebagai cara yang lebih baik supaya aktivitas dalam organisasi lebih efektif atau untuk menyempurnakan gagasan/ide yang sudah besar.
Senantiasa memiliki sikap sebagai seorang murid yang terus mau diajar   dan   belajar   dari   berbagai   hal  yang   berguna,   yang  dapat dimanfaatkan untuk mencapai hasil eksplosif bagi organisasi. Yesus senantiasa belajar dari Bapa-Nya dan dari setiap orang yang ditemui-Nya.[9]

Dengan demikian, kepemimpinan proaktif hanya akan terwujud jika pemimpin memiliki visi pribadi sebagai penuntun dan mengembangkan komunikasi yang memungkinkan terjadinya pertukaran pendapat, gagasan dan pandangan dalam memecahkan masalah-masalah yang bagi pemimpin akan dapat dimanfaatkan guna mengambil keputusan-keputusan. Pemimpin tidak hanya sekedar memuat keputusan dan memerintah pelaksanaannya, tetapi juga ikut serta dalam proses pelaksanaannya, dalam batas-batas tidak menggeser dan mengganti petugas yang bertanggung jawab melaksanakannya. Keikutsertaan pemimpin harus tetap dalam peran sebagai pemimpin dan bukan pelaksana.
Dengan kebiasaan sikap pemimpin yang proaktif seperti di atas, akan menjadikan dirinya dan bawahannya atau yang dipimpin memiliki kualitas kinerja yang unggul. Kualitas kinerja yang unggul ini akan terbukti dalam tercapainya sasaran dan tujuan organisasi dengan prestasi yang patut dibanggakan. Jadi, kepemimpinan proaktif adalah sangat ideal untuk menjamin kemajuan dan keberhasilan organisasi dan orang yang dipimpin.

d.      Teori Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang aktif, dinamis dan terarah. Keaktifan, kedinamisan dan keterarahan kepemimpinan demokratis terletak pada kecakapan dan keahlian pemimpin dalam mengembangkan organisasi yang dipimpinnya.
Semua aktivitas dalam kepemimpinan demokratis dilaksanakan secara tertib dan bertanggung gugat serta bertanggung jawab. Pembagian tugas-tugas yang disertai pelimpahan wewenang dan tanggung jawab yang jelas, memungkinkan setiap anggota berpartisipasi secara aktif. Dengan kata lain, setiap anggota mengetahui secara pasti kontribusi yang dpat disumbangkan atau diberikan guna mencapai tujuan organisasi dan melaksanakannya secara efektif dan efisien.
Dengan demikian, dalam pelaksanaan setiap keputusan tidak dipandang sebagai kegiatan yang dipaksakan atau terpaksa, tetapi sebaliknya semua elemen termotivasi mensukseskannya sebagai tanggung jawab bersama. Partisipasi dan aktivitas yang dibangun dalam kebersamaan (antara pemimpin dan bawahan) dengan tanggung jawab tinggi akan berdampak pada perkembangan dan kemajuan organisasi secara keseluruhan.
Perkembangan dan kemajuan organisasi secara keseluruhan akan optimal, apabila dibangun di atas sikap yang tinggi dari pemimpin dan bawahan. Disiplin yang tinggi akan berdampak peningkatan kualitas bekerja baik pemimpin maupun orang yang dipimpin.
Kepemimpinan demokratis dihormati dan disegani, karena kapasitasnya dalam mengembangkan, memelihara dan menjaga kewibawaan atas dasar hubungan manusiawi yang efektif. Di sini manusia ditempatkan sebagai faktor utama dan aset terpenting dalam setiap organisasi.
Pemimpin demokratis selalu tampil aktif  dan berpartisipasi untuk menyempurnakan kinerja organisasi yang dipimpinnya. Tujuannya ialah supaya kinerja organisasi yang dipimpinnya mengalami peningkatan dan dapat menjadi model untuk diteladani.

e.       Teori Kepemimpinan Kharismatik
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikemukakan bahwa kata 'kharismatik' berasal dari kata dasar 'kharisma' yang artinya, “Keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya; atribut kepemimpinan yang didasarkan atas kualitas kepribadian individu; karunia Roh Kudus yang luar biasa yang diberikan kepada orang beriman supaya melayani umat”.[10] Sedangkan menurut Max Weber yang dikutip oleh Gary Yulk menulis, “Kharisma terjadi bilamana terdapat suatu krisis sosial, yang pada krisis itu, seorang pemimpin dengan kemampuan pribadi yang luar biasa tampil dengan sebuah visi yang radikal yang memberi suatu pemecahan terhadap krisis tersebut, dan pemimpin tersebut menarik perhatian para pengikut yang percaya pada visi itu dan merasakan bahwa pemimpin tersebut sangat luar biasa”.[11]
Menurut Hadari Nawawi dan M. Martini Hadari, kepemimpinan kharismatik diartikan sebagai: Kemampuan menggerakkan orang lain dengan mendayagunakan keistimewaan atau kelebihan dalam sifat atau aspek kepribadian yang dimiliki pemimpin, sehingga menimbulkan rasa hormat, segan dan kepatuhan pada orang-orang yang dipimpinnya. Dengan kata lain, pemimpin   diterima sebagai  seseorang  yang  istimewa  oleh  orang  yang dipimpinnya, karena pengaruh kepribadian yang dapat menimbulkan kepercayaan, sehingga semua pendapat dan keputusan dipatuhi secara rela dan iklas.[12]
Kemudian Gary Yulk memberikan definisi tentang kata 'kharisma' yaitu, ”Kharisma adalah sebuah kata Yunani yang berarti karunia diinspirasi ilahi (divinly inspired gift) seperti kemampuan untuk melakukan mujizat atau memprediksi peristiwa-peristiwa di masa mendatang”.[13] Selanjutnya Leonardo Sjiamsuri mengartikan kata 'kharisma' yaitu, ”Kharisma ialah kemampuan atau keahlian yang hebat dan biasanya tidak diperoleh melalui pelajaran atau pendidikan tetapi diperoleh melalui keturunan (pembawaan sejak lahir); kharisma adalah sesuatu yang dapat terlihat dan dirasakan oleh orang lain atau lingkungan”.[14] Jadi, Para pemimpin kharismatik kemungkinan akan berperilaku dengan cara yang menimbulkan motivasi yang relevan bagi misi kelompok.
Mencermati apa yang diutarakan di atas, maka dapat dikatakan bahwa kepemimpina kharismatik dalam perspektif Kristen adalah kepemimpinan dengan kualitas karakter yang kuat dan terpuji, dilengkapi dengan kapasitas penuh (rohani, pengetahuan, karunia ketrampilan dan pengalaman) untuk memimpin. Dengan kapasitas lengkap semacam ini menempatkannya sebagai pemimpin yang berwibawa dan memiliki pengaruh yang positif untuk memimpin dengan baik, benar dan berhasil. Pemimpin lengkap seperti ini akan didukung secara penuh oleh orang-orang yang dipimpin karena ia membuktikan diri sebagai pemimpin kompeten dengan kualitas kinerja tinggi.
Berdasarkan uraian tentang teori kepemimpinan seperti yang dibentangkan di atas, maka dapat dikatakan bahwa bila seseorang pemimpin mensinergiskan semua kekuatan positif dari teori kepemimpinan yang ada dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya, niscaya ia menjadi pemimpin dengan kualitas kinerja tinggi dan organisasi yang dipimpinnya akan mencapai tujuannya dengan berhasil. Dengan demikian, efektifitas dari setiap teori kepemimpinan dalam menunjang kinerja pemimpin tergantung bagaimana pemimpin mengimplementasikan teori kepemimpinan dalam situasi dan kondisi serta konteks dimana kepemimpinan dilaksanakan.




[1] G. Osei-Mensah, Op. Cit., hlm. 10.
[2] Yakob Tomatala, Pemimpin yang Handal, Malang: Gandum Mas, 1997, hlm. 11.
[3] Norman Shawchuck, Pemimpin Gereja yang Sejati, Jakarta: Kharisma, 1984, hlm. 13.
[4] John C. Bowling, Kepemimpinan Penuh Kasih Karunia, Jakarta: Metanoia, 2001, hlm. 4,7.
[5] Yakob Tomatala, Op. Cit., hlm. 44.
[6] Ibid., hlm. 260, 261.
[7] Ibid., hlm. 262-263.
[8] Ibid., hlm. 263.
[9] Ferdinan Simanjorang, Sang Pemimpin Sejati, Jakarta: Gematama, 2004, hlm. 168.
[10] Tim Penyusun, Op. Cit., hlm. 509.
[11] Gary Yulk, Op. Cit., hlm. 268.
[12] Hadari N. & M. M. Hadari, Kepemimpinan yang Efektif, Yogyakarta: UGM, 2000, hlm. 103.
[13] Gary Yukl, Op. Cit., hlm. 268.
[14] Leonardo A. S., Kharisma versus Karakter, Jakarta: Nafiri Gabriel, 2001, hlm. 49.


READ MORE - TEORI KEPEMIMPINAN PENUNJANG KINERJA BERKUALITAS

PENGERTIAN KEPEMIMPINAN SECARA KHUSUS

Pengertian kepemimpinan Kristen dikemukakan secara khusus di sini dengan maksud untuk membentuk suatu konsep yang lebih spesifik, yang membedakan  kepemimpinan  Kristen  dari  pengertian-pengertian  umum tentang kepemimpinan. Hal ini disebabkan karena kepemimpinan Kristen memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan kepemimpinan pada umumnya. Keunikannya ialah bahwa pemimpin Kristen adalah orang yang dipilih, dipanggil dan ditetapkan oleh Allah untuk memimpin umat-Nya sesuai dengan kemampuan dan kasih karuia Allah kepadanya dan bukan hasil dorongan atau paksaan manusia untuk menjadi pemimpin.
Tentang hal ini, J. Robert Clinton menegaskan dan dikutip oleh Yakob Tomatala menulis, “Pemimpin Kristen adalah seseorang yang telah dipanggil Allah sebagai PEMIMPIN yang ditandai oleh kapasitas memimpin dan tanggung jawab pemberian Allah untuk memimpin (mempengaruhi/menggerakkan) suatu kelompok umat Allah (gereja) mencapai tujuan-Nya bagi, serta melalui kelompok ini”.[1] Jadi, Allah yang memanggil pemimpin dengan panggilan kudus untuk memimpin, Allah juga melengkapi pemimpin dengan kapasitas dan kapabilitas untuk melaksanakan misi-Nya sebagai hamba yang melayani. “Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, mereka yang layak diangkat menjadi pemimpin di tengah-tengah umat Allah, selalu diangkat untuk melayani. Entah mereka diangkat sebagai nabi, imam atau raja, mereka sekali-kali bukan diangkat untuk berkuasa atas umat Allah, melainkan untuk melayani mereka”.[2]
Dalam buku Kepemimpinan yang Dinamis, Yakob Tomatala memberikan definisi tentang kepemimpinan Kristen yaitu:
Kepemimpinan Kristen ialah suatu proses terencana yang dinamis dalam konteks pelayanan Kristen (yang menyangkut faktor waktu, tempat, dan situasi khusus) yang di dalamnya oleh campur tangan Allah, Ia memanggil bagi diriNya seorang pemimpin (dengan kapasitas penuh) untuk memimpin umatNya (dalam pengelompokkan diri sebagai suatu institusi/organisasi) guna mencapai tujuan Allah (yang membawa keuntungan bagi pemimpin, bawahan, dan lingkungan hidup) bagi dan melalui umatNya, untuk kejayaan KerajaanNya.[3]

Mencermati apa yang diutarakan dalam definisi di atas, maka ada beberapa elemen penting yang patut diperhatikan dalam kepemimpinan Kristen. Elemen-elemen penting dimaksud ialah: Pertama, ada campur tangan dan pengaruh Allah yang berinisiatif memanggil seorang pemimpin dalam proses yang dinamis untuk kemuliaan bagi Allah. Kedua, adanya konteks sebagai tempat di mana pemimpin akan mengabdi atau melayani Allah dan umat-Nya secara khusus dan dunia pada umumnya. Konteks di sini berhubungan dengan letak geografis, waktu dan kondisi spesifik yang berbeda dan bervariasi. Ketiga, adanya keterlibatan atau partisipasi umat Allah sebagai suatu kelompok atau organisasi dalam tanggung jawab bersama mengerjakan pelayanan yang dipercayakan kepada setiap individu. Keempat, adanya tujuan tertinggi yang ditetapkan oleh Allah yaitu untuk kemuliaan dan kejayaan kerajaan-Nya serta membawa sejahtera bagi pemimpin, umat yang dipimpin dan lingkungan di mana kepemimpinan Kristen dilaksanakan. Kelima, Allah sendiri melengkapi pemimpin yang dipilih dengan kharisma dan talenta kepemimpinan untuk mengabdi atau melayani dengan baik, benar dan berhasil. Keenam, hak untuk memimpin dari seorang pemimpin Kristen diterima dari Allah yang harus dilakukan dengan loyalitas dan integritas serta dedikasi tinggi dalam seluruh eksistensi kepemimpinannya.
J. Robert Clinton memberikan definisi tentang kepemimpinan Kristen secara filosofis dan dikutip oleh Richard Sessons menulis, ”Kepemimpinan (Kristen) ialah suatu proses terencana yang dinamis yang di dalamnya seorang pemimpin dengan kapasitas dan tanggung jawab pemberian Allah (mempengaruhi/menggerakkan) suatu kelompok orang atau para bawahan ke arah tujuan Allah yang menguntungkan pemimpin dan bawahan”.[4] Di sini kepemimpinan Kristen dipahami bahwa Allah sejak kekekalan dalam kehendak dan kedaulatan-Nya yang bebas sempurna memilih dan menetapkan seseorang pemimpin dalam suatu proses terencana dan dinamis untuk melaksanakan tugas kepemimpinan.
Dalam upaya menyelenggarakan tugas kepemimpinan tersebut, Allah sendiri melengkapi pemimpin dengan kapasitas (rohani, karunia, pengetahuan dan ketrampilan/kecakapan serta pengalaman) untuk suksesi kepemimpinannya. Suksesi kepemimpinan dimaksud ialah mencapai tujuan Allah dan membawa kemaslahatan bagi pemimpin dan bawahan/pengikut serta lingkungan di mana kepemimpinan Kristen diselenggarakan. ”Kepemimpinan kristiani yang rendah hati rela mengabdi melalui pelayanan, hanya mempunyai makna dalam konteks ke-Tuhan-an Kristus”.[5]  Dengan demikian, seorang pemimpin Kristen harus memiliki kesadaran diri yang tinggi bahwa ia terpilih dan dipilih oleh Allah untuk memimpin umat Allah (gereja) dengan penuh tanggung jawab. Tentang hal ini, Yakob Tomatala memberikan tekanan dan penegasan yaitu:
Seorang pemimpin Kristen sebagai seorang yang telah ditebus Allah, harus yakin bahwa ia terpanggil oleh Allah untuk tanggung jawab kepemimpinan, guna memimpin suatu kelompok umat Allah (Kejadian 12; Keluaran 2-7, 18; Roma 12:8, dsb). Tanda-tanda yang menunjuk bahwa seseorang terpanggil sebagai pemimpin Kristen ialah bahwa ia menyadari bahwa Allah telah menganugerahkan kepadanya kapasitas khusus (kharisma, kemampuan/kecerdasan, pengetahuan, pengalaman, dsb), serta adanya tanggung jawab (tugas) yang ada padanya (dikaruniakan/dipercayakan) untuk memimpin (menggerakkan/ mempengaruhi) kelompok orang (organisasi) yang dipimpinnya guna mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.[6]

Berdasarkan semua pengertian yang telah dijelaskan di depan, maka yang dimaksudkan dengan penigkatan kinerja kepemimpinan Kristen ialah proses, upaya dan cara terencana yang dinamis untuk meningkatkan prestasi dan kemampuan kerja (pengetahuan dan kecakapan/ ketrampilan) dari seorang pemimpin Kristen dalam konteks pelayanan Kristen, yang berhubungan dengan dimensi waktu, tempat dan situasi khusus, yang di dalamnya ada pengaruh dan campur tangan Allah. Pengaruh dan campur tangan Allah di sini dimengerti dan dipahami bahwa Allah yang berinisiatif aktif secara terencana dan dinamis untuk memilih, memanggil, menetapkan dan melengkapi seorang pemimpin Kristen dengan kapasitas (rohani, pengetahuan, kecerdasan, kompetensi, kecakapan/ketrampilan dan peristiwa khusus serta pengalaman hidup) untuk melaksanakan tugas kepemimpinan yang dipercayakan kepadanya dengan penuh tanggung  jawab. Tanggung   jawab  kepemimpinan   diwujudkan  dalam   hakikat hidup dan bakti seorang pemimpin Kristen, yang dibuktikan oleh komitmen taat kepada Allah dan ditandai dengan kinerja kepemimpinan yang berkualitas tinggi dalam organisasi (umat Allah) yang dipimpin.




[1] Yakob Tomatala, Kepemimpinan Kristen, Jakarta: YT Leadership Foundation, 2002, hlm. 15,16.
[2] G. Osei-Mensah, Dicari Pemimpin yang menjadi Pelayan, Jakarta: YKBK/OMF, 2001, hlm. 8.
[3] Yakob Tomatala, Op. Cit., hlm. 43.
[4] Richard Seasons, Kepemimpinan Kristen dalam Abad XXI, Jakarta: Metanoia, 1997, hlm. 1.
[5] G. Osei-Mensah, Op. Cit., hlm. 30.
[6] Yakob Tomatala, Op. Cit., hlm. 45, 46.




READ MORE - PENGERTIAN KEPEMIMPINAN SECARA KHUSUS

Popular Posts

 

Blogger news

google-site-verification: googlea9bbb7b8e027c698.html

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto Saya

Tumbuh menjadi dewasa di pulau Cendana Wangi Kupang dan saat ini menjadi pekerja sosial bidang kerohanian di Jakarta. Sudah menikah dengan gadis cantik dari kota Medan dan telah dikarunia seorang putra. Saat ini kami tinggal di Jakarta Timur